
wHy… ?
Aku keliru dengan cinta yang kurasa, aku mencinta sebuah derita namun aku meninggalkan luka untuk sebuah cinta yang menantiku. Ingin aku berjalan hanya dalam satu jalan saja, tanpa ada dusta., pengkhianatan, kepura-puraan. Aku berlari pada cinta yang termiliki hingga airmata menenggelamkan sebagian hasrat untuk bisa kembali tersenyum. Aku berharap akan sebuah keajaiban untuk bisa membawa kita pada tulusnya sebuah keinginan untuk menyatu. Ingin aku bagi beban ini, ingin aku bertanya tanpa meninggalkan tanya, ingin aku tersentuh tanpa harus terluka, ingin aku menyapa tanpa tersakiti. Aku lelah dengan tangisku, aku lelah dengan pengharapan tak berujung, aku lelah berlayar dengan perahu yang selalu saja karam. Aku berlari bukan untuk terjatuh, aku ingin bangkit dari kisah lalu yang telah melumpuhkan sebagian kekuatanku. Aku harus bisa menegakkan kaki ini untuk katakan bahwa “aku ada”.
Aku sudah lelah untuk menangis, untuk mempertanyakan takdir yang telah membawa aku pada sebuah pertempuran batin tiada henti. Aku pasrahkan saja rasa gundah ini, rasa galau ini, rasa cemburu ini, dan rasa cinta ini hanya kepadamu Tuhanku, Ya ALLAH... Ini takdirMu untukku yang Engkau tau ini terbaik untukku. Aku bukan malaikat, aku bukan dewi, aku hanya seorang wanita yang tidak pernah lepas dari tangis dan tawa yang masih memiliki nafsu, harapan dan keinginan untuk tidak tersakiti. Sebuah pilihan telah memaksaku untuk memeras hati dengan rasa sabar. Sebuah ajaran telah melangkahkan kakiku untuk memasrahkan segala sesuatu hanya pada Sang Pencipta. Kenyataan dan harapan saling berbenturan untuk memperebutkan sebuah jawaban tentang makna kata “setia” tanpa harus terbalut oleh sebuah perasaan yang telah terbagi.I
Ingin aku ungkapkan kegundahan hati ini, hati yang rapuh karena sebuah kepastian yang terpilih. Aku wanita yang memiliki satu kelembutan untuk dicintai dengan perasaan yang tidak terbagi. Aku terluka sayang, hatiku menangis ketika aku tahu bahwa ada cinta lain yang juga kamu beri tempat dalam hatimu. Namun apa dayaku?? Kekuatanku seolah runtuh ketika kenyataan menamparku dengan satu ketetapan yang telah tertulis, bagaimana cara aku untuk menjalani kehidupan cinta yang terbagi? sebuah pilihan yang ternyata aku belum mampu menjalaninya telah menjadi jalan yang terpilih oleh waktu.
Sayang…. Sulit untuk aku katakan ‘aku cinta’ karena hatiku telah terhunus oleh aturan yang bernama poligami. Semakin aku mencintaimu semakin dalam luka ini menghujam, semakin aku mengingatmu semakin deras luapan air mata ini menenggelamkan sebagian harapan. Aku ingin mencinta namun tidak dengan airmata. Hati ini tidak sekuat yang kamu kira, hati ini tidak setegar yang kamu duga. Karena sesungguhnya aku wanita yang mengharap sebuah kesetiaan dari seorang suami, tanpa terbagi oleh cinta lain meski aku tau itu bukanlah sebuah kesalahan.
Jika kaki ini mencoba mengumpulkan tenaga untuk bisa berdiri tegap maka haatiku mencoba untuk mengumpulkan puing-puing yang terserak agar bisa kembali memiliki asa. Kekuatanku tidak sedasyat yang terlihat, aku tidak siap, aku memilih untuk mengalah karena pada perjalanannya aku tersakiti dan aku menyakiti. Bukan karena cintaku memudar, bukan karena aku berpaling namun karena aku ingin kamu bahagia suamiku. Aku tidak ingin menghancurkan sebuah pilar yang terbangun oleh waktu. Aku tidak memiliki segenap ketulusan untuk ditempatkan sebagai wanita kedua dalam hatimu. Aku tidak memiliki segenggam kepasrahan untuk melihat senyuman-senyuman tak bersalah dari orang-orang yang telah mengisi separuh waktu perjalananmu.
Maafkan aku jika aku berlalri kencang meninggalkan jejak tak terlihat. Bukan inginku meruntuhkan bukit-bukit impian yang telah terbangun, namun aku tidak ingin menumpahkan tinta hitam pada kanvas kehidupan kita yang terlukis indah.
Biarkan semuanya tetap indah, tetap bersinar dengan kelembutan warna yang terpancar, tetap memberi satu inspirasi akan sebuah ketulusan. Dan lukisan itu, lukisan indah kehidupan kita yang pernah ada akan aku gantung saja pada dinding hatimu, berharap kamu menjaganya agar tidak termakan kata usang.
Suamiku… aku harus katakan, harus aku putuskan bahwa hatiku sudah tidak mampu lagi menjalankan sebuah pernikahan yang saat ini kita jalani. Kamu anugerah terindah yang Tuhan titipkan dalam hatiku, kamu adalah sang pangeran hati yang menaburkan benih-benih kebaikkan dan ketulusan dalam taman cinta yang kau simpan dalam relung hatiku. Kau adalah refleksi dari sebuah ketidakberdayaan akan satu kesetiaan yang pernah ada dan begitu kuat tertanam dalam setiap jengkal pemikiranmu. Namun pada akhirnya kau tersungkur dan terdampar di atas padang gersang tanpa bisa merasakan semilir angin pengabdian dari seorang wanita. Dan ketika keputusasaan itu menjadi teman, kamu mencoba bangkit agar langkahmu kuat dan bisa mencari kesejukkan untuk memberi udara agar jiwamu tidak mengering.
Pada sebuah perjalanan tak terduga akhirnya kamu menemukanku, meski jalan yang terlewati penuh liku, semua terlewati demi sebuah cinta yang tertutup oleh debu tebal. Kau tersenyum kembali ketika cinta bisa menyapamu lewat sebuah kepasrahan.
Terpikir olehku bahwa aku mampu menerima cinta yang terbagi, namun sekali lagi hatiku menjerit bahwa cintaku tidak cukup kuat untuk berjalan berdampingan dengan cinta yang lain. Maafkan aku suamiku, sebuah proses perjalanan panjang yang telah terlewati harus aku hentikan karena aku terluka sendiri. Aku bukan malikat yang tidak memiliki nafsu, aku hanyalah seorang wanita yang ingin tulus mencintai dan dicintai tanpa terbagi.
Belum mampu jika aku harus menjadikan kisah ini sebagai sebuah kenangan terindah, tertinggal dengan tanya yang tak terjawab. Seandainya Tuhan yang harus menjawab, biarlah ini menjadi kisah yang tertulis hanya dalam diary Tuhan. Aku ikuti saja semampuku hingga ku tahu dengan cara apa aku akan berjalan menyusuri sisa waktu.
Tuhan menciptakan hawa dari rusuk sang adam, bukan dari kepalanya untuk menjadi atasannya, bukan juga dari kakinya untuk menjadi alasnya, melainkan dari sisinya untuk menjadi teman hidupnya, dekat pada lengannya untuk dilindungi dan dekat pada hatinya untuk dicintai. Begitu mulia hawa tercipta, namun kenapa sang adam tidak tahu bahwa tulang rusuk itu bengkok, akan patah jika dipaksa untuk menjadi lurus. Begitu juga dengan keinginan kita… jika dipaksakan akan mematahkan hati yang tak tersalah, yang tidak tahu apa-apa.
Apakah aku harus menyalahkan sang waktu yang mempertemukan kita? Terjebak pada satu perasaan yang tidak tahu akan dikemanakan. Jika pilihan itu ada, lelah dan resah yang terfikir bahwa kamu adalah sebuah pilihan, pilihan yang harus terlupakan jika hati berbicara atas nama nyawa-nyawa tak bersalah. Jika itu adanya… izinkan aku cukup menyayangimu saja dalam asa yang terkubur. Inilah kenyataan dimana kisah kita ada diantara dia dan aku, ku peluk erat dirimu, kamu tetap akan terlepas. Ku genggam erat tanganmu, kamu tetap akan pergi. Ku tulus mencintaimu, kamu tetap akan terbagi. Di tempat terdalam aku menyimpanmu, kamu tetap akan terkubur, dengan cara apa aku harus mencintamu???
Aku berharap kepergianku meninggalkan sebuah senyuman untukmu suamiku, kau masih memiliki cinta lain yang bisa kamu bangun kembali. Aku ingin kau bahagia meski tanpa aku. Aku terluka kehilanganmu namun aku tau ini jalan untuk hatiku. Biarlah sang waktu yang akan memberi sebuah jawaban akan sikap terpilih.
0 comments:
Post a Comment